Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebagai salah satu lembaga pembiayaan yang mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mendorong laju pertumbuhan dan perkembangan perekonomian suatu daerah diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sukses atau tidaknya suatu LKM dipengaruhi oleh berbagai aspek, salah satunya dilihat dari kondisi keuangan yang dimilikinya. Penulis melakukan penelitian mengenai kinerja keuangan suatu LKM dengan analisis rasio keuangan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan LKM Kaligintung, LKM Kebonrejo, dan LKM Kedundang sehingga nantinya dapat diketahui LKM mana yang memiliki kinerja keuangan yang paling baik. Dengan menggunakan data laporan keuangan dari ketiga LKM ini, kinerja keuangan kemudian diukur dengan menggunakan rasio-rasio seperti Current Ratio, Cash Ratio, Return on Asstes, Return on Equity, Rasio Biaya Operasional, Non Performing Loan, Loan to Deposit Ratio, dan Kebijaksanaan Likuiditas selama periode 2009-2011 dengan memperhatikan aturan Petunjuk Teknis Operasional (PTO) LKM Tahun 2006. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan jenis data kuantitatif, dan sumber data primer dan sekunder.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa LKM Kedundang memiliki kinerja keuangan yang paling baik dari kedua LKM lainnya, hal ini dikarenakan perkembangan kinerja dari semua rasio kecuali NPL LKM ini menunjukkan peningkatan kinerja yang semakin baik selama periode penelitian. Namun, apabila dilihat dari nilai rata-rata tertinggi, LKM Kaligintung kinerja keuangannya lebih baik karena current ratio, cash ratio, dan BOPO lebih tinggi dari kedua LKM lainnya. Sedangkan jika dilihat dari terpenuhinya standar PTO LKM Tahun 2006, LKM Kebonrejo dan LKM Kedundang lebih baik kinerja keuangannya, karena nilai rata-rata cash ratio, ROE, dan NPL LKM Kaligintung tidak memenuhi standar PTO LKM Tahun 2006.