Konservasi Penyu Nagaraja di Kabupaten Cilacap sangat vital untuk menjaga keberlangsungan hidup penyu dan keseimbangan ekosistem laut. Namun, kesadaran masyarakat dan wisatawan terhadap konservasi penyu serta perlindungan lingkungan masih perlu ditingkatkan. Indonesia memiliki 6 dari 7 jenis penyu dunia, tetapi di Konservasi Penyu Nagaraja hanya dapat menetaskan dan melepaskan satu spesies, yaitu penyu lekang. Hal ini disebabkan karena setiap spesies memiliki habitat yang berbeda-beda. Sehingga, pihak konservasi penyu merasa kesulitan dalam proses edukasi mengenai penyu yang belum ada bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk merancang aplikasi pariwisata dan pembelajaran penyu menggunakan Augmented Reality (AR) untuk memvisualisasikan spesies penyu dalam bentuk 3D yang belum ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mengimplementasikan, dan merancang aplikasi berbasis AR guna meningkatkan layanan eduwisata di Konservasi Penyu Nagaraja. Metode pengembangan yang digunakan adalah Multimedia Development Life Cycle (MDLC), yang terdiri dari 6 tahap: Concept, Design, Material Collecting, Assembly, Testing, dan Distribution. Tahapan-tahapan ini tidak harus dilakukan secara berurutan. Berdasarkan hasil pengujian Black Box yang dilakukan oleh penulis, seluruh fungsi dalam aplikasi PELITA telah beroperasi dengan baik. Pada tahap pengujian menggunakan metode System Usability Scale (SUS) yang melibatkan 133 responden, aplikasi PELITA memperoleh rata-rata nilai 82,7443609. Nilai ini masuk dalam rentang skor ?73 dan <85, sehingga mendapatkan grade B dengan predikat "Excellent". Aplikasi PELITA juga masuk dalam kategori "Acceptable (High)" dengan rentang penilaian penerimaan pengguna 61-100.
Kata Kunci: Augmented Reality, AR, Konservasi, MDLC, Penyu, Pembelajaran